counter

Selasa, 07 Januari 2014

KAMPUS BARU (LAGI) bagian 2

*perjumpaan*

Pukul 02.10 WIB

    Jam sudah menunjukkan pukul 02.10 WIB, terlambat satu jam dari jadwal kedatangan yang seharusnya, tapi tak apalah. Sampai di Stasiun Pasar Senen kami dijemput oleh kakak sepupuku, Sepupu ayahku yang seharusnya menjemput tidak datang. Dan akhirnya kami putuskan untuk singgah di kamar kos sepupuku itu.

Pukul 04.28 WIB

    Matahari belum menyinari Jakarta, tapi kami harus segera berangkat menuju terminal untuk selanjutnya menuju Meruya, Jakarta Barat, dimana Pamanku yang lain tinggal. Dalam perjalanan kami menuju Jakarta Barat, bus yang kami naiki melewati Monas, saat itulah pertama kalinya aku melihat Monas dari dekat, suasana Jakarta sangatlah berbeda dengan Solo dan Karanganyar kampong halamanku. Di Jakarta, gedung-gedung menjulang tinggi dan kesibukan sudah terlihat sejak pagi buta.

Pukul 06.45 WIB

    Kami sudah berganti bus dengan angkot, dan pagi itu angkot kami berhenti cukup lama di depan suatu pasar yang tak dapat ku ingat namanya. Macet, ya beginilah keadaan Jakarta, sangat amat berbeda dengan kampung halaman. Lama perjalanan kami hingga akhirnya sampai di sebuah kompleks perumahan. Sepupuku ada di depan kami sembari menunjukkan jalan, dan sampailah kami di sebuah rumah. Saat itulah pertama kalinya aku berjumpa dengan anak dari kakaknya kakek ku, Paman Gito. Meskipun mungkin aku pernah berjumpa dengannya saat aku masih kecil, tentu itu sudah lama sekali.
    Tak banyak cerita yang kami bagi, karena pagi itu pamanku sekeluarga akan menyelenggarakan sebuah acara, sebuah rapat keluarga untuk membicarakan pernikahan anaknya. Kakak sepupuku ini memang sudah mapan, menjadi seorang akuntan public di delapan perusahaan yang berbeda, luar biasa bukan?
    Para tamu mulai berdatangan, saat itu juga aku berjumpa dengan saudara-saudara ayahku yang belum pernah aku temui sebelumnya, seperti Paman Pur dan Budhe Kartini. Acara yang seharusnya tidak aku hadiri ini pun membuatku lelah. Tak lama setelah acara tersebut selesai, ayahku memberitahuku untuk segera berkemas, karena Pakdhe Pur bersedia mengantar kami ke kampus baru ku, STAN.

Pukul 14.45 WIB

Aku dan ayahku pun berpamitan kepada Pakdhe dan Budhe Gito untuk melanjutkan perjalanan menuju STAN. Di dalam mobil Budhe memberikan beberapa “wanti-wanti” hidup di kota Jakarta, tak banyak memang. Mas Dimas pun sedikit bercerita tentang STAN. Beberapa menit berlalu dan kami sudah sampai di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Untuk pertama kalinya aku melihat kampus STAN yang tersohor, yang menjadi idaman ribuan calon mahasiswa di Indonesia untuk dapat menimba ilmu di sana.

*STAN*

    Pertama yang kulihat dari kampus baruku ini tentu air mancur yang menjadi icon STAN, kulihat beberapa orang berfoto dengan latar belakang air mancur itu. Ingin sekali aku diambil gambarnya dengan latar belakang air mancur STAN ssaat itu, lalu suara  seruan ayahku membuyarkan lamunan ku. Ayah segera mengajak berkeliling untuk mencari tahu gedung yang esoknya akan digunakan untuk daftar ulang. Kami pun bertemu dengan salah seorang panitia yang sedang melakukan geladi bersih. Dia memberitahu gedung mana yang pada keesokan harinya digunakan untuk daftar ulang.
    Kami pun melanjutkan berkeliling dengan tujuan mencari kos yang nantinya akan aku tempati. Seorang satpam menawarkan bantuan untuk mencari kos, dan ayahku mengiyakan. Lalu dipanggilnya seorang lelaki paruh baya untuk mengatarkan kami melihat kamar kosnya. Sebuah pemandangan yang baru pertama kali aku temui, sebuah permukiman padat penduduk, rumanya tidak tertata rapi dan saling berimpitan satu sama lain.
    Tak lama kami sampai di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dengan pohon-pohon yang rimbun. Sang pemilik kos menyambut kami dengan sangat ramah. Mereka menunjukkan dua kamar yang masih kosong. Ibu pemilik kos pun membukakan kamar pertama. Gelap, luas ruangan itu kira-kira 3x3 m, ada sebuah lemari di pojok kamar, sebuah kasur empuk membujur dari utara ke selatan. Sebuah meja kayu di sisi pojok kamar yang lain beserta kursinya. Tak banyak memang isi kamar ini. Saat ayahku bertanya, aku hanya berkomentar sekenanya, memang aku kurang merasa nyaman dengan kamar itu.

“Masih ada yang kamar mandi dalam nggak bu?” tanya Ayahku kepada pemilik kos.

“Masih sih pak, hanya saja letaknya di ujung.” Jawab ibu kos.

   Lalu ibu kos mengantar kami melihat kamar yang dimaksud. Kesan pertama saat memasuki kamar ini, agak ngeri juga karena letak kamarnya di paling ujung, Tapi melihat keadaan kamar cukuplah membuat hati ini “sreg” dan setelah beberapa saat bernegosiasi kepada pemilik kosan untuk harga sewa kamar, aku pun kini resmi sebagai calon penghuni kosan. Haha, sebuah pengalaman yang selalu aku dambakan sejak lulus sekolah.
   Selesai memesan kamar kos, kami memutuskan untuk pulang ke rumah Pakdhe Pur. Aku dan ayahku pun menginap semalam di rumah Pakdhe Pur sebelum esok hari aku harus melakukan daftar ulang. Tak sabar menunggu esok hari, setelah sholat isya’ aku putuskan untuk segera tidur.

Pukul 04.05 WIB

   Terbangun aku dari tisurku yang nyenyak. Letih yang ku alami kemarin pun hilang. Aku pun bergegas untuk mandi, karena aku tak ingin terjebak oleh macet lagi. Setelah sholat, Budhe menyuruh kami untuk sarapan. Tak lama kemudian kurapikan semua baju dan bersiap siap untuk berangkat. Semua sudah ku periksa, pakaian hitam putih berlengan panjang, berkas daftar ulang, sepatu baru, dan semangat baru.

Pukul 05.07 WIB

    Kulihat Mas Dimas sedang memanasi mobil. Lalu aku dan ayahku memasukkan barang-barang kai dan kemudian berpamitan kepada pakdhe dan budhe. Budhe berpesan untuk menyempatkan berkunjung ke rumahnya saat libur. Mobil mas Dimas sudah dikeluarkan dari garasi, sejenak berdoa untuk keselamatan kami selama berkendara. Langit masih gelap namun keadaan jalan sudah ramai. Banyak hal terbayang dikepalaku tentang kehidupan kos dan lain sebagainya. Tak sabar rasanya.

Pukul 05.58 WIB

    Memasuki gerbang STAN kulihat beberapa mobil, bahkan ada bus sudah terparkir di dekat air mancur STAN. Aku hanya berfikir positif bahwa antrian di buka jam 6 memang, dan benar saja antrian sudah menular panjang untuk daftar ulang di hari pertama. Setelah turun dari mobil aku pun segera berlari tak ingin ketinggalan dengan yang lain. Aku berdiri di antrian paling belakang, lalu satu per satu calon mahasiswa baru berdatangan dan berbaris juga di belakangku. Cukup lama ku berdiri hingga akhirnya antrian bergerak. Mungkin hampir dua jam aku berdiri hanya untuk mendapat nomor antrian danaku mendapat nomor antrian 700’an (aku lupa berapa tepatnya).
   Menunggu, hanya itu yang aku lakukan, sedikit berjalan-jalan untuk menghilangkan kebosanan. Saat sedang duduk seseorang yang duduk disampingku bertanya kepadaku.

“Kuliah di U*S juga mas?” tanyanya.

“Iya.”

“Jurusan apa?”

“Pendidikan Matematika”

“Loh kok sama?”

    Dan obrolan kami berlanjut, ternyata dia adalah adik tingkatku di kampusku yang dulu, dan tak disnagka kami berasal dari kabupaten yang sama. Seperti menemukan keluarga meskipun kami tidak memiliki hubungan keluarga yang sebenarnya. Hahaha
   Lama menunggu hingga kudengar suara adzan Dzuhur, kuputuskan untuk sholat di masjid kampus. Selesai sholat ayahku menawarkan untuk istirahat di kos sementara, karena giliranku dipanggil masih lama, tapi aku menolaknya. Sampai akhirnya nomorku dipanggil, sudah tak ku perhatikan pukul berapa waktu itu.memasuki Gd G, ternyata kami pun masih harus menunggu.

Pukul 20.18 WIB

    Akhirnya tiba waktu kami untuk melakukan pemberkasan, tidak memakan waktu lama dan sesi daftar ulang lembaga pun selesai. Berlanjut daftar ulang BEM, ada serangkaian proses yang harus kami lalui, mulai dari membayar biaya untuk Kegiatan Kemahasiswaan, tes kesehatan, mengukur badan untuk jas alamamater, peminatan kegiatan mahasiswa, dan yang paling menarik adalah saat kami ditanyai bakat yang dimiliki, mereka yang memiliki bakat tertentu akan mendapat golden tiket untuk tampil di malam inagurasi. Dan pos terakhir adalah keagamaan. Selesai melakukan daftar ulang, badanku terasa sangat letih dan hanya ingin segera mandi lalu tidur.
    Keesokan harinya ayahku mengajak berbelanja keperluan untuk DINAMIKA (untuk universitas lebih sering disebut ospek), banyak barang yang harus dibeli saat itu. Jelas terbayang seperti apa nanti DINAMIKA itu. Kulihat beberapa mahasiswa baru STAN yang juga berbelanja di swalayan dekat kampus, beberapa dari mereka sudah memangkas rambut mereka (salah satu aturannya kami harus botak). Beberapa barang di swalayan itu bahkan sudah habis, meski tersisa pun barang itu pasti sudah rusak.

    Rabu 18 September 2013, ayahku berkemas untuk kembali ke kampong halaman. Setelahnya akau akan resmi menjadi anak kos seutuhnya, jauh dari rumah dan keluarga. Ada rasa senang karena dapatkan apa yang aku inginkan, rasa haru untuk ketiga kalinya menjadi mahasiswa baru. Akan tetapi, rasa sedih pun muncul disaat bersamaan karena terpisah jauh dengan keluarga. Hanya satu yang aku camkan di dalam diriku adalah, aku tak boleh mengecewakan Mereka, orang tuaku yang telah berkorban untuk impian anaknya. Dan semoga aku bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar